ETIKA DAN PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN SUMBER DAYA MANUSIA
Dirangkum Dari Kuliah Antropologi
Dengan Dosen Pengampu Ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos, M.Pd, M.I.Kom.
Membawa kita untuk mendalami pengetahuan tentang Etika dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) bukanlah hal yang sederhana, membutuhkan leterasi yang dalam untuk melihatnya dari banyak sisi, terlebih mengupas Etika dan Pengembangan SDM dari sudut pandang Antropologi.
Dalam bagian ini kita akan berbicara hal-hal yang melandasi sebuah Etika dan Pengembangan Diri dari sebuah Sumber Daya Manusia:
Ada tiga hal pokok yang mampu menguatkan Etika dan Pengembangan Diri dari sebuah Sumber Daya Manusia, meliputi :
- Komunikasi.
- Etika.
- Kepribadian.
1. KOMUNIKASI
Komunikasi
Komunikasi adalah proses penyampian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dll yang dilakukan seorang komunikator dalam bentuk stimulus (Lisan dan Tulisan) dengan tujuan membentuk perilaku komuniken (orang yang dituju sebagai penerima informasi).
Proses Sebuah Komunikasi
Komunikasi tanpa dilandasi sebuah proses hanya akan mendatangkan kebingungan atau sering kita sebut sebagai miskomunikasi (kegagalan komunikasi secara efektif)
Menurut konsep dasar Harold D Lasswell, dikatakan bahwa komunikasi adalah sebuah proses yang terdiri dari
- Who Says (siapa mengatakan apa)
- What In Which Chanel to Whom (melalui saluran apa kepada siapa)
- With What Effect (efek apa)
Yang prosesnya adalah sebagaimana gambar dibawah ini
Komunikator adalah pihak yang disandang (saat proses komunikasi) pada seseorang bertindak sebagai pengirim pesan kepada komunikan.
Pesan adalah isi dari sebuah proses komukasi.
Media adalah wadah atau alat yang digunakan oleh pihak komunikator untuk membawa isi pesan.
Komunikan adalah pihak yang disandang (saat proses komunikasi) sebagai tujuan yang akan menerima pesan dari isi komukasi.
Efek adalah dampak dan respon dari pihak komuniken (penerima) isi komunikasi.
Pentingnya Peran Komunikator Dalam Proses Komunikasi
Rangkaian proses komunikasi ini baru dianggap berhasil (tidak ada miskomunikasi), apabila pihak komunikator melihat efek (reaksi) yang sesuai dengan apa yang dia inginkan dari proses komunikasi ini.
tetapi jika efek dan reaksi yang muncul dari komunike ternyata tidak sesuai seperti ekpetasi dari komunikator, maka kegagalan (miskomunikasi) ini harus ditelaah; dimana kegagalan proses ini terjadi, bisa saja ada pada pihak :
komunikator yang gagal memberi konten yang jelas, atau mungkin media pembawa pesan yang salah, atau efek dan dampak yang terjadi tidak jelas karena isi pesan tidak dimengerti oleh komuniken
Dari gambar diatas maka jelas pihak komunikator adalah yang paling bertanggung jawab untuk mengemas (membungkus) proses komunikasi ini dengan baik (efektif) agar pihak komuniken dapat beraksi dan merespon dengan benar sesuai harapan (ekpetasi) dari pihak komunikator.
Komponen Yang Harus Dikuasi Komunikator Untuk Memahami Komuniken
- Kognitif adalah kemampuan pihak komunikator berpikir untuk menilai dan mempertimbangkan, bahkan menghubungkan suatu peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain. Dan Kognitif ini merupakan dasar dari segala kemampuan bagi seorang konunikator.
- Afektif adalah kejiwaan yang melingkupi komunikator (perasaan dan emosi) yang akan berpengaruh atau mempengaruhi saat akan melakukan proses komunikasi.
- Konatif adalah sikap yang diambil oleh komunikator dalam mengeksekusi proses pesan yang akan disampaikan, seperti memutuskan media komunikasi yang akan dipakai, kapan proses komunikasi akan dilakukan, atau bentuk dan isi (pesan) komunikasi yang bagaimana yang akan dibuat.
Selain itu seorang komunikator juga harus memahami landasan filosofi sebuah komunikasi dilakukan, sebagaiman tergambar dalam tabel dibawah ini
- Untuk membentuk hubungan & menjaga hubungan.
- Jalan menuju sukses.
- Membangun citra diri.
- Menyampaikan pesan dan informasi.
- Mengubah sikap dan perilaku (komuniken).
- Pemecahan masalah hubungan.
Tujuan utama sebuah komunikasi yang efektif adalah :
- Informing adalah semacam bentuk proses komunikasi dengan landasan "promosi" untuk menyatakan sebuah pesan sehingga pihak penerima pesan menjadi tertarik
- Persuading adalah proses komunikasi dengan tujuan mempengaruhi dan meyakinkan orang lain
- Collaborating adalah sebuah proses yang dilakukan secara berkelompok atau bersama-sama untuk mencapai tuuan tertentu, dimana didalam "Collaborating" tersebut terjadi proses komunikasi.
Bentuk Komunikasi Lisan
Adalah ketika komunikator mampu mempergunakan seluruh tubuhnya untuk menyampaikan pesan tersebut atau kita kenal dengan nama Bahasa Tubuh "Body Language", atau cara berkomunikasi dengan media tubuh dari komunikator, yang meliputi "vokal", "Verbal" dan "Visual".
Vocal adalah bentuk suara (tinggi rendah, keras lembut, dll).
Verbal adalah bentuk penggunaan tata bahasa dan kalimat yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan saat dipergunakan.
Visual adalah tindakan melihat dengan mata yang dapat menyampaikan isi sebuah komunikasi.
2. ETIKA
Lahir dari bahasa Yunani "Ethos" yang berarti "suatu kebiasaan yang tampak atau terlihat"
Etika Secara umum dapat dikatakan bahwa Etika adalah aturan, norma, kaidah, atau tata cara yang digunakan sebagai pedoman (asas) dan norma dari suatu individu dalam melakukan perbuatan dan tingkah laku, khususnya yang berkaitan dengan lingkungan didalam masyarakat dimana individu tersebut beraktivitas.
Etiket
Lahir dari bahasan Perancis "Ettiquete" yang berarti "sopan santun".
Etiket secara umum menurut Kamus Besar Bahasa Indoensesi berarti sebuah sikap dalam sebuah tata cara adat dalam rangka menjaga hubungan baik dengan sesama manusia dan lingkungannya.
Perbedaan dari Etika dan Etiket lebih kepada bagaimana seseorang melakukan hal tersebut, dimana norma Etiket muncul ketika seseorang berada dalam sebuah lingkungan yang mengahruskan adanya etiket (contoh : etiket saat memasuki lingkungan keagaman, etiket saat seorang prajurit memberi salam hormat kepada komandaningkungannya, dll).
sedangkan norma Etika adalah kepribadian seseorang dalam memahami diri sendiri dan menempatkannya pada kebiasaan yang ada pada lingkungannya (contoh saat seorang pria selalu mendahulukan wanita saat akan menaiki kendaraan umum, saat seseorang yang lebih muda selalu berjalan dibelakang dari yang usia lebih tua, dll).
3. KEPRIBADIAN
Kepribadian secara umum merupakan tingkah laku sosial yang terdiri dari ekspresi, perasaan, ciri khas, kekuatan, dorongan, opini, dan sikap yang melekat pada seseorang saat berhubungan dengan orang lain pada situasi tertentu.
Kepribadian "Personality" adalah gambaran dari individu seseorang yang terbagi dalam 2 jenis, yaitu:
1. Kepribadian Introver
2. Kepribadian Ekstrover
Introver atau sering disebut Introvert yaitu kepribadian yang lebih banyak menghabiskan energinya untuk merenung dan memikirkan sesuatu sebelum individu tersebut mengungkapkan sesuatu gagasan dan ide.
Kondisi ini sering disalah artikan sebagai sikap "pemalu" dan "penyendiri" oleh mereka yang tidak memahaminya, dan dianggap tidak memiliki keberanian dan kepercayaan tinggi.
Ektrover atau sering disebut Ektrovert yaitu kepribadian yang berbanding terbalik dengan introvert, dimana individu ini lebih banyak menghabiskan energinya secara terbuka dan aktip dalam lingkungan sosial.
Kesimpulan Penutup
Setelah mengulas semua, maka perlu kita masing-masing untuk belajar mengembangkan Sumber Daya Manusia agar tetap update dengan lingkungan sosial dengan meihat diagaram pengembangan diri sebagai berikut
Sekian dan Terima Kasih
Penulis Blog
Yesaya Budi Handoyo
Mahasiswa jurusan Ilmu Hukum
Univ. Mpu Tantular.
Jakarta 26 Juni 2022 jam 09.25 Pagi




Comments
Post a Comment